Pada akhir Ramadhan 1421 Hijriyah yang lalu saya dan keluarga berkesempatan untuk melakukan ibadah umrah bersama. Ibadah umrah kali ini terasa begitu istimewa karena selain dilakukan pada bulan Ramadhan, kami pun berkesempatan untuk berhari raya Idul Fitri sekaligus menyambut Tahun Baru 2001 di Tanah Suci.
Baru saja kami menyelesaikan urusan imigrasi dan menunggu petugas memuat barang – barang ke bagasi bus, saya tertarik pada beberapa orang yang berlalu – lalang di sekitar rombongan kami. Dari raut mukanya, jelaslah bahwa mereka berasal dari rumpun bangsa Melayu yang sama dengan kita, entah itu berasal dari Thailand, Brunei, Malaysia ataupun Indonesia. Salah seorang diantaranya menghampiri kami, tersenyum sambil mengulurkan tangan dan mengucap salam dengan ramah.
“ Mas baru datang dari Indonesia, ya? “, dia bertanya seraya melirik peci hitam yang saya kenakan.
“ Iya, mas, kami ikut rombongan umrah dari Jakarta. Mas sendiri juga dari Indonesia, kan? “.
“ Iya “, katanya tetap tersenyum.
“ Kalau begitu mas juga baru datang? “.
“Oh, tidak. Saya sudah beberapa hari ada di sini. Keberadaan saya di sini adalah untuk menjemput salah satu rombongan umrah dari Singapura “.
Setelah berbincang lebih lama, barulah saya tahu bahwa Mas kita yang bernama Hadi Sudarno ini berasal dari salah satu pesantren kecil di Probolinggo, Jawa Timur. Dia adalah satu dari sekian banyak mahasiswa kita yang kuliah di Mesir dan seringkali menjadi pemandu haji dan umrah bagi jemaah dari Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapura melalui biro perjalanan yang ada.
Berbeda dengan para TKI Ilegal yang kerapkali dikejar – kejar petugas keamanan Saudi, keberadaan para mahasiswa ini ternyata diperbolehkan oleh pemerintah karena mereka biasanya mempunyai dokumen yang lengkap, berupa ijin bekerja dan berdomisili resmi yang biasa disebut Iggamah. Tentu saja hal ini sangat menggembirakan mengingat seringkali kita mendengar banyak dari saudara – saudara kita di sini yang terpaksa harus main kucing – kucingan dengan petugas keamanan dan imigrasi karena keberadaan mereka yang ilegal. Untuk tinggal dan bekerja di Saudi Arabia biasanya mereka hanya menggunakan visa kunjungan singkat dan tentu saja hal tersebut menyalahi peraturan keimigrasian yang ada.
“ Ngomong – ngomong, apa Mas Hadi sering bertemu dengan saudara – saudara kita yang kena uber itu? “.
“ Lumayan juga, bahkan saya sendiri pun sempat beberapa kali mendapatkan perlakuan yang kurang bersahabat dari para petugas. Syukurlah saya mempunyai dokumen keimigrasian yang lengkap sehingga memudahkan segala sesuatunya di sini “.
“ Karena ilegal, keberadaan mereka tentu melanggar hukum dan peraturan keimigrasian, kan? “.
“ Nah, itulah yang sering membuat kita sedih dan prihatin, seakan – akan hal tersebut memaklumatkan bahwa bangsa kita ini adalah bangsa ilegal “.
“Wah, jangan berpendapat terlalu ektrem begitu, Mas Hadi…”.
"Tapi begitulah kenyataannya, Mas Ovie. Sebenarnya masih banyak saudara – saudara kita di sini yang mempunyai dokumen resmi, namun hal tersebut seakan tertutupi dan tak pernah diungkit – ungkit. Yang muncul ke permukaan hampir selalu yang ilegal dan yang negatif saja. Tak ada yang melarang kita mencari rejeki dimanapun, bahkan hal tersebut telah ditegaskan dalam agama kita sendiri, ‘ Bertebaranlah engkau di muka bumi ini dalam menjemput rejeki – Ku ‘, namun carilah rejeki itu dengan cara yang baik dan tidak melanggar hukum, baik itu hukum agama maupun hukum negara. Saudara – saudara kita itu tidak sadar bahwa selain merendahkan diri sendiri, mereka juga sebenarnya telah merendahkan bangsa dan negaranya dengan menjadi warga ilegal tersebut “.
“Apa Mas Hadi pernah memberikan masukan kepada saudara – saudara kita itu agar lebih baik mengurus ijin tinggal dan bekerja resmi itu daripada harus selalu bersembunyi bila bertemu dengan para petugas? “.
“Sebenarnya telah berkali – kali saya menyarankan hal tersebut. Tapi itulah permasalahannya, mendapatkan Iggamah itu tak semudah seperti yang kita bayangkan. Selain karena adanya birokrasi yang cenderung rumit dan berbelit – belit dari pemerintah Indonesia dan Saudi Arabia, waktu dan biaya ‘ non budgeter ‘ yang besar, juga banyak sekali dari para saudara kita di sini yang tidak mengerti proses hukum dan perundang – undangan yang berlaku, mungkin karena sebagian besar dari mereka berasal dari latar belakang pendidikan yang kurang memadai, baik itu dalam kapasitasnya sebagai TKI, pedagang ataupun pemandu haji dan umrah seperti saya ini “.
“ Lantas kalau ada hak – hak sipil mereka yang dilanggar, misalnya saja terjadi penipuan dalam berdagang, penganiayaan, pembayaran upah yang tak sesuai kontrak, perkosaan atau bahkan pembunuhan, kemana mereka harus melaporkannya dan meminta keadilan? “, dengan sedikit emosional saya bertanya.
Sambil tetap tersenyum Mas Hadi berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan sendu, “ Yang jelas, mereka tidak akan melaporkan pelanggaran – pelanggaran itu kepada kita berdua, apalagi sampai meminta keadilan, Mas Ovie… “.
Saya ingin berkomentar lebih jauh lagi ketika ketua rombongan sekaligus pemandu umrah kami memberitahukan agar kami segera menaiki bus, menuju hotel untuk beristirahat dan bersiap – siap dengan jadwal kegiatan selanjutnya. Di Tanah Suci ini, kita semua tengah diuber – uber. Bedanya, rombongan umrah kami diuber – uber oleh jadwal kegiatan ibadah yang sangat padat sedangkan saudara – saudara kita yang ilegal itu diuber – uber oleh petugas keamanan dan imigrasi Saudi Arabia.
Ah, betapa malangnya nasib kalian, wahai saudara – saudaraku…
Rute Umrah
1. Jakarta – Jeddah
King Abdul Aziz Airport
King Fadh Port
Laut Merah
Makam Siti Hawa
2. Jeddah – Madinah
Mesjid Nabawi, makam Rasulullah
Mesjid Kubah, mesjid yang pertama dibangun
Jabal Uhud, tempat peristiwa perang Uhud dimana Hamzah, paman nabi gugur
Mesjid Kiblatain, mesjid dengan dua arah kiblat.
3. Madinah – Mekkah
Melakukan umrah di Masjidil Haram
Arafah, ke Jabal Rahmah, tempat pertemuan Adam dan Hawa
Mina, tempat melempat JumrahJabal Rum, dimana terdapat Gua Hira.
King Fadh Port
Laut Merah
Makam Siti Hawa
2. Jeddah – Madinah
Mesjid Nabawi, makam Rasulullah
Mesjid Kubah, mesjid yang pertama dibangun
Jabal Uhud, tempat peristiwa perang Uhud dimana Hamzah, paman nabi gugur
Mesjid Kiblatain, mesjid dengan dua arah kiblat.
3. Madinah – Mekkah
Melakukan umrah di Masjidil Haram
Arafah, ke Jabal Rahmah, tempat pertemuan Adam dan Hawa
Mina, tempat melempat JumrahJabal Rum, dimana terdapat Gua Hira.
06 Januari 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar