Senyumku untuk Dunia...

Ketika pertama kali blog ini dibuat, aku bingung juga tema apa yang pengen di usung. Pikir punya pikir, kenapa nggak cerita tentang dunia aja ya?

Koq tentang dunia? Nah, mungkin ini jadi menarik karena kebetulan aku rada2 suka melihat - lihat dunia orang lain, jalan2, suka ama budaya & kesenian baik itu dari Indonesia maupun mancanegara. Dari pengalaman "ngungsi" dari satu tempat ke tempat lainnya itulah yang menjadi dasar pertimbangan kenapa aku memilih "dunia" sebagai tema blog ini.

Banyak cerita menarik yang bisa dibagi. Ada yang aneh, unik, lucu, mendebarkan bahkan menyedihkan. Kita bisa menimba ilmu dari berbagai kejadian yang dialami. So... semoga blog ini bisa lebih memberi warna & makna. Teriring salam hangat dan senyumku untuk dunia...

Sabtu, 05 Juli 2008

Pilih Opera House apa Candi Borobudur?

Tau kan Opera House? Itu tuh, satu gedung berbentuk aneh yang ada di kota Sydney. Pertanyaannya adalah, koq bisa sih ada gedung dengan desain aneh kaya gitu? Trus maksudnya apaan?

Selidik punya selidik, ternyata desain seperti itu merefleksikan kapal layar yang pernah nyampe di Sydney. Ceritanya, ada satu team dari Kerajaan Inggris yang iseng jalan – jalan di lautan luas, tau – tau nyampoknya di satu benua asing yang sekarang dikenal sebagai Australia. Nah, sebagai penghormatan kepada orang – orang nyasar pimpinan Captain James Cook (ada juga yang bilang James Hook) itulah akhirnya dibuatkan satu gedung dengan desain kapal layar tersebut.

Opera House yang dekat dengan Darling Harbour dan Harbour Bridge tersebut dijadikan sebagai obyek wisata, pusat kesenian dan kebudayaan bukan hanya bagi warga Australia tetapi juga untuk dunia. Yang paling asyik, saat sore hari kita bisa jalan – jalan di sekitar Opera House, menikmati pemandangan, nyantai sambil minum – minum di kedai – kedai yang ada di sepanjang pedestrian yang bersih & luas. Kapan ya kita punya gedung atau bangunan yang membanggakan seperti itu?

Ceritanya, sore itu aku dan seorang teman dari Bandung yang sedang liburan di Sydney tengah jalan – jalan di sekitar Opera House setelah seharian berkeliling kota mulai dari Paddington, Kings Cross, The Rocks, Darling Harbour, Circulay Quay, Queen Victoria Building sampai memandangi kota Sydney dari Centre Point Tower. Sebagai tuan rumah yang baik (cie...), selain menemani tentunya aku memberikan sedikit guidance tentang tempat – tempat yang dikunjungi. Aku jadi teringat dan kangen banget dengan kota Yogyakarta dimana aku sempat kuliah dan seringkali mengantarkan turis – turis mancanegara berkeliling mulai dari Malioboro, Taman Sari, Kraton, Kasongan, Kota Gede, Parangtritis, Prambanan sampai Borobudur. Ah, Indonesiaku, engkau jauh lebih cantik dari semua tempat yang pernah kukunjungi di dunia ini...

“Boss, naha maneh meni bengong kitu?”, kata si teman membuyarkan lamunanku.
“Alaah, maneh, ngaganggu urang wae...”, saya menyahut sambil tersipu malu.
“Ingat kampung halaman, ya? Hehehe...”
“Eits, tajong ku aing.. gue lagi mikir gimana caranya biar elu cepet pulang, soalnya elu ngerepotin gue banget di sini. Udah dateng nggak bilang – bilang, nebeng di tempat tinggal gue, minta dianterin jalan kemana – mana, makan diongkosin...”
“Hahaha... gue tau elu bakalan ngomong gitu, makanya buat ngeganti semuanya, gue sengaja bawain ini dari Indonesia, asli dari Muntilan”, si teman dari Bandung itu (namanya Bo’az) mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya. Ternyata, satu souvenir dari batu gunung berbentuk replika stupa Borobudur yang sangat indah.
“Gile lu, Az.. keren banget hadiahnya. Elu emang tau gue lagi kangen banget ma Indonesia”, senang sekali aku menerimanya.
“Alaaah, tong sentimentil kitu atuh...”, kata Bo’az sambil berlalu dengan cuek bebek.

Aku tersadar, ternyata aku sangat mencintai Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Australia, kalian memang punya Opera House yang membanggakan, tapi kami juga punya Borobudur yang jauh lebih membanggakan.
“Hey, Bo’az Kayaban, rek kamana maneh... ieu mah kurang atuh buat ngebayar living cost plus service charge maneh di dieu!”, aku berteriak sambil mengejar Bo’az yang sudah kian jauh berlalu.

Jumat, 04 Juli 2008

Looking for Rommate, Male or Female, Wuiih...

Setelah menyelesaikan berbagai proses administrasi, akhirnya diterima jualah daku di satu kampus yang katanya sih lumayan keren di Australia dan Sydney khususnya. Masalah baru muncul ketika para mahasiswa post graduate tidak diberikan fasilitas asrama seperti para fresh graduate from high school, terpaksalah awak yang perantauan ini mulai mencari flat yang sesuai dengan isi kantong dan berjarak tak jauh dari kampus di daerah Kensington.

Bolak balik koran, ternyata mencari flat tidak sesulit seperti bayanganku semula. Banyak iklan yang menawarkan flat dengan berbagai ukuran & fasilitas yang beragam sesuai dengan harga tentunya. Selain dari koran, ada banyak flyer (selebaran) yang disebar ataupun langsung iklan di depan flat yang bakal dihuni. For Rent dan kata – kata unik bermunculan di plang yang biasanya ditancapkan di halaman rerumputan yang ada di depan flat. Satu plang yang paling keren adalah dengan kata – kata seperti ini...
“Looking For Roomate, Male or Female”. Nah, itu dia yang aku cari, hehehe... Iseng – iseng aku menyambangi salah satu flat yang memasang plang tersebut. Saat pintu flat diketuk dengan lembut, muncullah seorang cewek manis berpakaian sueeeksi dengan senyuman yang tak kalah aduhai.
“X’cuse me, is this 433th?”, kucoba membuka omongan.
“What d’ye think?”, katanya sambil tetap tersenyum dan memandangi nomor flat yang ada di depan pintu. Wah, pasti aku keliatan bodoh banget saat itu. Untuk menghilangkan kebodohan itu, aku coba buat meneruskan omongan dengan suara yang lebih berwibawa (belakangan baru aku sadar, gimana sih suara yang berwibawa itu?),
“I see that u’r lookin’ for rommate at this time. So how’s the deals on?”

Belum sempat tuh cewek manis menjelaskan rules of the game-nya bila aku mau berbagi flat dengannya, telpon genggamku berbunyi, ternyata omm yang di Perth “mengganggu” kesenangan ini. Takut kualat ( di Sydney ada kualat juga nggak ya?), aku terima telpon itu dengan segera.
“Yes, Boss... ada yang bisa dibantu?”
“Perasaan kamu deh Vie yang perlu bantuan...”
“Bantuan apaan, omm?”
“Kamu dah dapet flat belum?”
“Lookin’ for, omm... lookin’ for...”
“Gini aja, omm dah telpon temen yang mau balik ke Indonesia karena program doktoralnya dah kelar. Kamu bisa gantiin flat dia sampai 6 bulan ke depan dan kalau kamu betah, bisa diterusin aja sendiri. Dua hari lagi dia balik ke Jakarta, jadi kamu bisa cepet – cepet pindah ke flatnya. Ok kan?”

Wuih, khayalan berbagi flat dengan tuh cewek manis jadi buyar seketika. Senyuman aduhainya, desah suaranya, pakaian seksinya, body indahnya....
“Oya, Vie... satu hal lagi, omm cuman memastikan pesan ortu kamu di Jakarta agar jangan berfikir yang aneh – aneh deh di Sydney. Kamu nggak boleh cari teman sekamar cewek di sana, dan lagi rencananya tiap bulan omm dan tante bakalan nebeng di flat kamu selama satu tahun ini karena mulai bulan depan omm bakal jadi dosen tamu di kampus kamu, jadi mendingan kamu tinggal sendirian aja biar lega. Kamu nggak keberatan, kan?”

Jawabanku atas pertanyaan itu udah nggak penting lagi. Yang jelas, plang bertuliskan “Looking For Rommate, Male or Female” itu selalu terbayang – bayang dalam benakku hingga saat ini. Wuih...

Rabu, 25 Juni 2008

Kuliah di Sydney karena Kopinya...

Pertama kali menginjakkan kaki di benua Kanguru, waktu itu saya masih berusia 10 tahun. Kesan seorang anak kecil waktu itu mungkin tidaklah terlalu penting, tapi entah kenapa saya merasa negeri ini (baca : Australia) bukanlah sebuah tempat yang asing. Beberapa tahun kemuadian saya berkesempatan untuk melanjutkan sekolah di Sydney dan rasa itupun semakin lekat.

Ceritanya sih lumayan aneh. Ketika itu sebenarnya saya pengen kuliah di Perth, Western Australia, tempat dimana seorang omm saya tinggal dan mengajar di salah satu universitas terkenal di sana. Saat waktu luang tiba, saya memutuskan untuk berkunjung ke teman yang tinggal di Sydney, New South Wales. Tiba di Sydney, bukannya berkeliling kota & menikmati suasana yang ada, saya malahan terpaksa ngurusin teman yang sakit dan dirujuk ke Queen Victoria Memorial Hospital. Selidik punya selidik, ternyata tuh teman kecanduan narkoba. Orang tuanya datang dan memutuskan agar si teman dibawa ke Singapore aja untuk rehabilitasi karena jaraknya dianggap tidak jauh dari Indonesia.

Saat mau balik ke Perth, ayah si teman minta tolong lagi agar saya bisa mengurus administrasi dan tetek bengeknya di kampus. Datanglah saya ke kampus teman yang berjudul The University of New South Wales atau lebih terkenal dengan sebutan UNSW di daerah Kensington.
Pertama sih urusannya berjalan mulus, namun tiba – tiba saya melihat seorang cewek cakep berwajah Melayu yang melintas di depan koridor perpustakaan. Karena penasaran, saya ikuti langkah – langkah kaki indahnya yang ternyata menuju bangku taman yang ada di sekitar kampus. Mulailah fikiran kreatif saya berjalan untk menyusun strategi agar bisa berkenalan dengan tuh cewek. Nah… kenapa konsep usang tidak dipakai lagi untuk mendekatinya….

Dengan langkah mantap cewek itu saya dekati, berhenti di hadapannya seraya berdehem agar bisa mendapatkan perhatiannya, ehm… hm…
“Excuse me, I’m not from here anyway. Would you like to show me where’s the UV office, please?”, saya membuka percakapan.
Tuh cewek menatap saya sambil tersenyum dan berkata, “Boss, gak usah basa basi deh, gue tau elu dari Indonesia kan? Trik kayak gitu udah jadul banget. Gue tadi liat elu barusan keluar dari UV office, jadi gak usah pura – pura kesasar gitu deh, hehehe…”.
Duh, malunya saya…. Ternyata tuh cewek udah ngeliat saya di kantor rektorat tadi. Singkat cerita, akhirnya kita berkenalan. Dia meluangkan waktu untuk menemani saya berkeliling Sydney, melihat kampus – kampus yang ada disana dan ujung – ujungnya, mempromosikan Sydney sebagai tempat yang asyik buat kuliah. Sampai kini cewek yang bernama Ocha itu tetap menjadi salah satu sahabat terbaik saya.

Ketika saya mengikuti saran Ocha untuk kuliah di Sydney, Omm di Perth dan orang tua di Jakarta cuman bisa bengong waktu saya kemukakan alasannya.
“Be, kayaknya aye mo sekolah si Sydney aja deh, gak jadi di Perth, soalnya di Sydney aye ketemu ama kedai yang enak banget kopi’nye…”.

Antara Yogya - Bandung & London - Paris

Dalam suatu perjalanan kereta api dari Yogyakarta ke Bandung, entah darimana asalnya pikiran saya melayang pada satu perjalanan kereta api jurusan London – Paris yang pernah saya tumpangi. Bedanya, perjalanan Yogyakarta – Bandung ini terasa sangat membosankan, yang terlihat di kanan kiri lajur kereta api hanyalah rumah – rumah penduduk yang kumuh dan menyesakkan, persawahan yang kering dan terkadang semak belukar biasa, sementara perjalanan London – Paris waktu itu diselingi oleh pemandangan gedung – gedung tua bergaya Eropa yang sangat indah, suasana pedesaan yang asri sampai terowongan bawah laut yang unik, penuh keriangan dan suasana kereta yang menyenangkan.

Hampir dua jam sudah kereta api jurusan Yogyakarta – Bandung ini berjalan. Belum ada hal – hal menarik yang bisa saya temukan. Yang ada hanyalah kesibukan para petugas yang tengah memeriksa tiket atau menawarkan berbagai jenis makanan dan minuman serta suasana hening para penumpang yang mulai dihinggapi rasa kantuk atau tengah asyik dengan pikirannya masing – masing.

Tiba – tiba tanpa disadari, entah dari mana datangnya, seorang wanita cantik berpakaian seragam blazer paduan biru tua dan muda berdiri tepat di samping tempat duduk saya, seraya tersenyum dengan sangat manisnya.
“ Maaf, apakah anda memerlukan sesuatu, mungkin minuman atau makanan? Di kereta ini kami menyediakan teh melati atau kopi toraja yang nikmat, juga ada wedang jahe, tahu genjrot Cirebon dan empek – empek Palembang. Ada kue amparan tatak dari Banjarmasin, atau anda tertarik untuk menikmati rujak cingur Surabaya spesial kami? “.
“ Eh, oh, terima kasih, Mbak. Saat ini saya masih kenyang, saya hanya merasa bosan dengan suasana perjalanan ini “, saya jadi salah tingkah dibuatnya.
“ Oya? Kami akan merasa sangat bersalah bila anda tidak bisa menikmati perjalanan ini “, kata pramugari kereta tersebut masih dengan senyum manisnya.
“ Eh, oh, bukan begitu maksud saya… “, saya jadi makin salah tingkah dan merasa menyesal dengan apa yang baru saja diucapkan.
“ Baiklah kalau begitu. Bila anda memerlukan sesuatu, anda bisa menghubungi saya kapan saja atau petugas lainnya yang selalu siap berada di ujung gerbong sana. Anda tinggal menekan tombol ini dan kami akan siap melayani. Mungkin beberapa koran dan majalah ini akan bisa mengurangi kejenuhan anda. Kalau anda masih belum bisa menikmatinya, kami punya gerbong restorasi yang menyajikan makanan terbaik bagi anda, selain itu masih ada pub dengan live music yang pasti akan dapat anda nikmati “, masih dengan senyum manis dia menjelaskan.
“ Terima kasih, saya rasa aneka bacaan yang ada ini sementara sudah cukup buat saya “, mau tak mau saya pun menanggapinya dengan senyuman pula.

Gadis pramugari tersebut pun berlalu dan kembali melanjutkan tugasnya, menawarkan keramahan dan pelayanan terbaik kepada para penumpang lainnya agar mereka pun bisa menikmati suasana nyaman selama perjalanan ini.
Hampir satu jam lamanya saya membolak – balik aneka koran dan majalah yang diberikan oleh sang pramugari tadi. Tanpa terasa saya mulai dapat menikmati suasana menyenangkan dalam perjalanan kali ini. Jelaslah bahwa keramahan dan pelayanan yang diberikan tadi membuat saya bisa lebih santai dan menikmati perjalanan.

Tak berapa lama kemudian, sosok cantik tadi kembali mendekati tempat duduk saya seraya membawa sesuatu di tangannya.
“ Saya sengaja membawakan secangkir teh lemon segar ini agar anda bisa merasa lebih santai dan semoga bisa menghilangkan kejenuhan yang ada “.
“ Wah, terima kasih banyak, Mbak. Jujur saja, saya merasa sangat bersalah dengan ucapan saya tadi bahwa perjalanan ini terasa membosankan. Dengan segala pelayanan dan keramahan yang Mbak berikan… “
“ Itu sudah menjadi tugas kami untuk membuat penumpang merasa puas dan nyaman “, katanya memotong, “ Oya, sebaiknya saya ambilkan tambahan selimut agar anda merasa lebih hangat. Perjalanan kita masih cukup jauh dan cuaca di awal bulan Januari ini seringkali sangat dingin dan tidak bersahabat “.
“ Dodol! Dodol! “
“ Nasi bungkus! Telor Asin! “
“ Kripik tempe! Tahu goreng! “
“ Rokok! Tissue! Minuman dingin! Permen! “

Saya terhenyak, dipaksa terbangun dari mimpi indah itu ketika mendengar teriakan – teriakan yang begitu khas, keras dan membahana. Di luar, suasana Stasiun Banjar begitu riuh rendah dengan berbagai kesibukan. Bandung tinggal beberapa jam lagi, tapi pasti jarak dan waktu yang tersisa ini akan kembali terasa begitu lama dan membosankan. Maklum saja, saya sudah tidak ditemani lagi oleh khayalan tentang pramugari cantik yang selalu tersenyum ramah dan fasilitas kereta api yang lengkap, bersih dan nyaman. Ternyata, kereta api jurusan Yogyakarta – Bandung memang berbeda dengan kereta api jurusan London – Paris.

“ 08 Januari 2001 “

Uber2an ala Tanah Saudi

Pada akhir Ramadhan 1421 Hijriyah yang lalu saya dan keluarga berkesempatan untuk melakukan ibadah umrah bersama. Ibadah umrah kali ini terasa begitu istimewa karena selain dilakukan pada bulan Ramadhan, kami pun berkesempatan untuk berhari raya Idul Fitri sekaligus menyambut Tahun Baru 2001 di Tanah Suci.

Baru saja kami menyelesaikan urusan imigrasi dan menunggu petugas memuat barang – barang ke bagasi bus, saya tertarik pada beberapa orang yang berlalu – lalang di sekitar rombongan kami. Dari raut mukanya, jelaslah bahwa mereka berasal dari rumpun bangsa Melayu yang sama dengan kita, entah itu berasal dari Thailand, Brunei, Malaysia ataupun Indonesia. Salah seorang diantaranya menghampiri kami, tersenyum sambil mengulurkan tangan dan mengucap salam dengan ramah.
“ Mas baru datang dari Indonesia, ya? “, dia bertanya seraya melirik peci hitam yang saya kenakan.
“ Iya, mas, kami ikut rombongan umrah dari Jakarta. Mas sendiri juga dari Indonesia, kan? “.
“ Iya “, katanya tetap tersenyum.
“ Kalau begitu mas juga baru datang? “.
“Oh, tidak. Saya sudah beberapa hari ada di sini. Keberadaan saya di sini adalah untuk menjemput salah satu rombongan umrah dari Singapura “.

Setelah berbincang lebih lama, barulah saya tahu bahwa Mas kita yang bernama Hadi Sudarno ini berasal dari salah satu pesantren kecil di Probolinggo, Jawa Timur. Dia adalah satu dari sekian banyak mahasiswa kita yang kuliah di Mesir dan seringkali menjadi pemandu haji dan umrah bagi jemaah dari Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapura melalui biro perjalanan yang ada.

Berbeda dengan para TKI Ilegal yang kerapkali dikejar – kejar petugas keamanan Saudi, keberadaan para mahasiswa ini ternyata diperbolehkan oleh pemerintah karena mereka biasanya mempunyai dokumen yang lengkap, berupa ijin bekerja dan berdomisili resmi yang biasa disebut Iggamah. Tentu saja hal ini sangat menggembirakan mengingat seringkali kita mendengar banyak dari saudara – saudara kita di sini yang terpaksa harus main kucing – kucingan dengan petugas keamanan dan imigrasi karena keberadaan mereka yang ilegal. Untuk tinggal dan bekerja di Saudi Arabia biasanya mereka hanya menggunakan visa kunjungan singkat dan tentu saja hal tersebut menyalahi peraturan keimigrasian yang ada.
“ Ngomong – ngomong, apa Mas Hadi sering bertemu dengan saudara – saudara kita yang kena uber itu? “.
“ Lumayan juga, bahkan saya sendiri pun sempat beberapa kali mendapatkan perlakuan yang kurang bersahabat dari para petugas. Syukurlah saya mempunyai dokumen keimigrasian yang lengkap sehingga memudahkan segala sesuatunya di sini “.
“ Karena ilegal, keberadaan mereka tentu melanggar hukum dan peraturan keimigrasian, kan? “.
“ Nah, itulah yang sering membuat kita sedih dan prihatin, seakan – akan hal tersebut memaklumatkan bahwa bangsa kita ini adalah bangsa ilegal “.
“Wah, jangan berpendapat terlalu ektrem begitu, Mas Hadi…”.
"Tapi begitulah kenyataannya, Mas Ovie. Sebenarnya masih banyak saudara – saudara kita di sini yang mempunyai dokumen resmi, namun hal tersebut seakan tertutupi dan tak pernah diungkit – ungkit. Yang muncul ke permukaan hampir selalu yang ilegal dan yang negatif saja. Tak ada yang melarang kita mencari rejeki dimanapun, bahkan hal tersebut telah ditegaskan dalam agama kita sendiri, ‘ Bertebaranlah engkau di muka bumi ini dalam menjemput rejeki – Ku ‘, namun carilah rejeki itu dengan cara yang baik dan tidak melanggar hukum, baik itu hukum agama maupun hukum negara. Saudara – saudara kita itu tidak sadar bahwa selain merendahkan diri sendiri, mereka juga sebenarnya telah merendahkan bangsa dan negaranya dengan menjadi warga ilegal tersebut “.
“Apa Mas Hadi pernah memberikan masukan kepada saudara – saudara kita itu agar lebih baik mengurus ijin tinggal dan bekerja resmi itu daripada harus selalu bersembunyi bila bertemu dengan para petugas? “.
“Sebenarnya telah berkali – kali saya menyarankan hal tersebut. Tapi itulah permasalahannya, mendapatkan Iggamah itu tak semudah seperti yang kita bayangkan. Selain karena adanya birokrasi yang cenderung rumit dan berbelit – belit dari pemerintah Indonesia dan Saudi Arabia, waktu dan biaya ‘ non budgeter ‘ yang besar, juga banyak sekali dari para saudara kita di sini yang tidak mengerti proses hukum dan perundang – undangan yang berlaku, mungkin karena sebagian besar dari mereka berasal dari latar belakang pendidikan yang kurang memadai, baik itu dalam kapasitasnya sebagai TKI, pedagang ataupun pemandu haji dan umrah seperti saya ini “.
“ Lantas kalau ada hak – hak sipil mereka yang dilanggar, misalnya saja terjadi penipuan dalam berdagang, penganiayaan, pembayaran upah yang tak sesuai kontrak, perkosaan atau bahkan pembunuhan, kemana mereka harus melaporkannya dan meminta keadilan? “, dengan sedikit emosional saya bertanya.

Sambil tetap tersenyum Mas Hadi berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan sendu, “ Yang jelas, mereka tidak akan melaporkan pelanggaran – pelanggaran itu kepada kita berdua, apalagi sampai meminta keadilan, Mas Ovie… “.
Saya ingin berkomentar lebih jauh lagi ketika ketua rombongan sekaligus pemandu umrah kami memberitahukan agar kami segera menaiki bus, menuju hotel untuk beristirahat dan bersiap – siap dengan jadwal kegiatan selanjutnya. Di Tanah Suci ini, kita semua tengah diuber – uber. Bedanya, rombongan umrah kami diuber – uber oleh jadwal kegiatan ibadah yang sangat padat sedangkan saudara – saudara kita yang ilegal itu diuber – uber oleh petugas keamanan dan imigrasi Saudi Arabia.
Ah, betapa malangnya nasib kalian, wahai saudara – saudaraku…

Rute Umrah
1. Jakarta – Jeddah
King Abdul Aziz Airport
King Fadh Port
Laut Merah
Makam Siti Hawa

2. Jeddah – Madinah
Mesjid Nabawi, makam Rasulullah
Mesjid Kubah, mesjid yang pertama dibangun
Jabal Uhud, tempat peristiwa perang Uhud dimana Hamzah, paman nabi gugur
Mesjid Kiblatain, mesjid dengan dua arah kiblat.

3. Madinah – Mekkah
Melakukan umrah di Masjidil Haram
Arafah, ke Jabal Rahmah, tempat pertemuan Adam dan Hawa
Mina, tempat melempat JumrahJabal Rum, dimana terdapat Gua Hira.
06 Januari 2001

Rabu, 11 Juni 2008

The Rocks... Walking, Looking, Eating, and just Smiling...

Ketika denger lagu Munajat Cinta, kita semua pasti udah tau siapa yang nyanyiin tembang itu. Yess, lagu itu dibawakan dengan apik oleh The Rock (alias Ahmad Dhani). Kenapa ya dinamain The Rock? Jawaban paling gampang adalah karena group band itu mungkin emang mengusung aliran musik rock dalam format berekspresinya.

Tapi pernahkah kalian tau bahwa sebenarnya ada satu kawasan tua di Sydney, Australia yang udah ratusan taon diberi judul “The Rocks”. Menurut cerita opa – oma di sana, kawasan itu dulunya adalah penjara bagi para “jawara” dari Inggris Raya yang diasingkan & dibuang ke tanah Aborigin itu. Banyak bangunan tua berumur ratusan taon yang masih terawat baik, tentu aja sekarang kawasan itu bukan lagi digunakan sebagai penjara, tapi udah jadi satu sentra wisata yang sangat mengundang selera. Sekarang ini di kawasan itu udah berjejer hotel – hotel keren, pub & cafe, butik, restoran dan tempat berleha – leha lainnya. Pendek kata, kawasan The Rocks saat ini bukan lagi menyeramkan, tapi udah jadi kawasan yang menyenangkan bahkan menggiurkan.
So, kalau kalian sempat “kesasar” ke Sydney, belon afdol rasanya bila nggak mampir di kawasan The Rocks ini, asal jangan ikut – ikutan jadi “jawara” juga ya kalo udah ada di sana, hehehe...

Malam itu kebetulan aku & temen – temen kampus lagi jalan – jalan di kawasan The Rocks. Kata orang – orang di Sydney, motto di daerah ini adalah “Walking, Looking & Eating”. Nah, hal itu pulalah yang kami kerjakan di sana. Setelah puas hilir mudik sambil cuci mata, kami putuskan untuk mampir di salah satu pub yang berserakan di The Rocks. Beda dengan kawasan lain di dunia, hampir semua pub & cafe atau resto di sini punya sejarah karena memang menurut ceritanya kawasan ini sudah ada sejak tahun 1722. Duh, kebayang kan kalo kita tiap malam menghabiskan waktu luang di daerah ini mulai tahun 1722 ( walaupun dulunya ini daerah penjara...).

Ada satu pub yang katanya udah berumur ratusan tahun, namanya Wooloomooloo. Pub ini terkenal dengan kopinya yang aduhai dan bir ramuan sendiri yang sangat maknyus rasanya. Tak berapa lama setelah kami pesan, hidangan pun keluar dengan penampilan yang begitu menggugah selera yang memang sudah tak terbendung lagi.

Konsentrasiku pada makanan sedikit buyar ketika ada serombongan pengunjung yang masuk ke pub, tertawa – tawa dan sedikit berteriak nggak karuan yang akhirnnya menyita perhatian teman – temanku dan pengunjung yang lainnya. Selidik punya selidik, mereka adalah anak – anak Indonesia yang juga kuliah di Sydney. Kelihatannya mereka sudah setengah mabuk dan ingin makan pula di Wooloomooloo.

Melihat hal itu, seorang teman asal Singapore pun berkata sambil melirik ke arah mereka, “Is that u’re friends, Ovie? I heard they speak in Indonesia”.
“Yeah, I know that. But I don’t know who they’re exactly”
“That’s very colorful people I think’, kata teman lainnya yang dari New Zealand.

Mendengar hal itu, dengan sedikit rasa haru dan malu sebagai orang Indonesia aku hanya bisa tersenyum (baca : tersipu malu) menanggapi celotehan iseng teman – teman mancanegaraku.
The Rocks, it’s the place that you can Walking, Looking, Eating… and just Smiling…