Dalam suatu perjalanan kereta api dari Yogyakarta ke Bandung, entah darimana asalnya pikiran saya melayang pada satu perjalanan kereta api jurusan London – Paris yang pernah saya tumpangi. Bedanya, perjalanan Yogyakarta – Bandung ini terasa sangat membosankan, yang terlihat di kanan kiri lajur kereta api hanyalah rumah – rumah penduduk yang kumuh dan menyesakkan, persawahan yang kering dan terkadang semak belukar biasa, sementara perjalanan London – Paris waktu itu diselingi oleh pemandangan gedung – gedung tua bergaya Eropa yang sangat indah, suasana pedesaan yang asri sampai terowongan bawah laut yang unik, penuh keriangan dan suasana kereta yang menyenangkan.
Hampir dua jam sudah kereta api jurusan Yogyakarta – Bandung ini berjalan. Belum ada hal – hal menarik yang bisa saya temukan. Yang ada hanyalah kesibukan para petugas yang tengah memeriksa tiket atau menawarkan berbagai jenis makanan dan minuman serta suasana hening para penumpang yang mulai dihinggapi rasa kantuk atau tengah asyik dengan pikirannya masing – masing.
Tiba – tiba tanpa disadari, entah dari mana datangnya, seorang wanita cantik berpakaian seragam blazer paduan biru tua dan muda berdiri tepat di samping tempat duduk saya, seraya tersenyum dengan sangat manisnya.
“ Maaf, apakah anda memerlukan sesuatu, mungkin minuman atau makanan? Di kereta ini kami menyediakan teh melati atau kopi toraja yang nikmat, juga ada wedang jahe, tahu genjrot Cirebon dan empek – empek Palembang. Ada kue amparan tatak dari Banjarmasin, atau anda tertarik untuk menikmati rujak cingur Surabaya spesial kami? “.
“ Eh, oh, terima kasih, Mbak. Saat ini saya masih kenyang, saya hanya merasa bosan dengan suasana perjalanan ini “, saya jadi salah tingkah dibuatnya.
“ Oya? Kami akan merasa sangat bersalah bila anda tidak bisa menikmati perjalanan ini “, kata pramugari kereta tersebut masih dengan senyum manisnya.
“ Eh, oh, bukan begitu maksud saya… “, saya jadi makin salah tingkah dan merasa menyesal dengan apa yang baru saja diucapkan.
“ Baiklah kalau begitu. Bila anda memerlukan sesuatu, anda bisa menghubungi saya kapan saja atau petugas lainnya yang selalu siap berada di ujung gerbong sana. Anda tinggal menekan tombol ini dan kami akan siap melayani. Mungkin beberapa koran dan majalah ini akan bisa mengurangi kejenuhan anda. Kalau anda masih belum bisa menikmatinya, kami punya gerbong restorasi yang menyajikan makanan terbaik bagi anda, selain itu masih ada pub dengan live music yang pasti akan dapat anda nikmati “, masih dengan senyum manis dia menjelaskan.
“ Terima kasih, saya rasa aneka bacaan yang ada ini sementara sudah cukup buat saya “, mau tak mau saya pun menanggapinya dengan senyuman pula.
Gadis pramugari tersebut pun berlalu dan kembali melanjutkan tugasnya, menawarkan keramahan dan pelayanan terbaik kepada para penumpang lainnya agar mereka pun bisa menikmati suasana nyaman selama perjalanan ini.
Hampir satu jam lamanya saya membolak – balik aneka koran dan majalah yang diberikan oleh sang pramugari tadi. Tanpa terasa saya mulai dapat menikmati suasana menyenangkan dalam perjalanan kali ini. Jelaslah bahwa keramahan dan pelayanan yang diberikan tadi membuat saya bisa lebih santai dan menikmati perjalanan.
Tak berapa lama kemudian, sosok cantik tadi kembali mendekati tempat duduk saya seraya membawa sesuatu di tangannya.
“ Saya sengaja membawakan secangkir teh lemon segar ini agar anda bisa merasa lebih santai dan semoga bisa menghilangkan kejenuhan yang ada “.
“ Wah, terima kasih banyak, Mbak. Jujur saja, saya merasa sangat bersalah dengan ucapan saya tadi bahwa perjalanan ini terasa membosankan. Dengan segala pelayanan dan keramahan yang Mbak berikan… “
“ Itu sudah menjadi tugas kami untuk membuat penumpang merasa puas dan nyaman “, katanya memotong, “ Oya, sebaiknya saya ambilkan tambahan selimut agar anda merasa lebih hangat. Perjalanan kita masih cukup jauh dan cuaca di awal bulan Januari ini seringkali sangat dingin dan tidak bersahabat “.
“ Dodol! Dodol! “
“ Nasi bungkus! Telor Asin! “
“ Kripik tempe! Tahu goreng! “
“ Rokok! Tissue! Minuman dingin! Permen! “
Saya terhenyak, dipaksa terbangun dari mimpi indah itu ketika mendengar teriakan – teriakan yang begitu khas, keras dan membahana. Di luar, suasana Stasiun Banjar begitu riuh rendah dengan berbagai kesibukan. Bandung tinggal beberapa jam lagi, tapi pasti jarak dan waktu yang tersisa ini akan kembali terasa begitu lama dan membosankan. Maklum saja, saya sudah tidak ditemani lagi oleh khayalan tentang pramugari cantik yang selalu tersenyum ramah dan fasilitas kereta api yang lengkap, bersih dan nyaman. Ternyata, kereta api jurusan Yogyakarta – Bandung memang berbeda dengan kereta api jurusan London – Paris.
“ 08 Januari 2001 “
1 komentar:
Wah..kereta apa yang anda tumpangi? Jadi pengin tahu nih.. Karena kami memang termasuk sering naik kereta Bandung Yogya
Posting Komentar